Jakarta, STT Kerusso Indonesia – Dalam sebuah perenungan teologis yang disampaikan oleh Dr. Samuel Elkana, mahasiswa STT Kerusso Indonesia kembali diajak untuk memahami kembali makna urapan dan jubah dalam kehidupan seorang pelayan Tuhan. Urapan bukan hanya lambang rohani, melainkan penugasan ilahi yang menuntut kesetiaan, kemurnian, dan kerendahan hati.
Melalui contoh Daud yang diurapi tiga kali, dijelaskan bahwa setiap pelayan Tuhan akan melalui proses pemisahan, persiapan, dan pengutusan sebelum dipakai secara penuh. Jubah bukan sekadar simbol pelayanan, tetapi mencerminkan identitas rohani yang dibentuk oleh Tuhan melalui proses kehidupan yang utuh—baik di altar, keluarga, maupun ruang tersembunyi.
Dr. Samuel Elkana juga mengangkat komposisi minyak urapan dalam Perjanjian Lama: mur (luka dan pengorbanan), kayu manis (integritas), dan kalamus (ukuran hidup ilahi). Hal ini menggambarkan bahwa hidup dalam urapan berarti siap diproses, diukur, dan dibentuk oleh Tuhan.
Makna jubah juga menyentuh dimensi relasi, seperti yang diteladankan oleh Yonatan saat menyerahkan jubah kerajaannya kepada Daud. Ini menjadi lambang kerendahan hati—meletakkan ambisi pribadi demi rencana Allah yang lebih besar.
Refleksi ini sejalan dengan visi STT Kerusso sebagai institusi yang unggul dalam melaksanakan Amanat Agung, dengan menekankan pembentukan pelayan yang bukan hanya kuat secara intelektual, tetapi juga tangguh secara karakter dan spiritualitas. Mahasiswa diajak untuk mengenakan jubah yang sesuai dengan panggilan, dan setia dalam setiap penugasan Tuhan sekecil apa pun itu.